-1Sahabat.1 Cinta -
Begitu asing Dea memasuki sekolah barunya,apalagi dia harus berjalan sendiri untuk mencari kelas barunya, tanpa didampingi guru ataupun orang tuanya. Dia tampak berjalan menyusuri lobby dan tampak beberapa murid memperhatikanya. “Permisi, apa kau tau dimana kelas 8.3 ?” Dea mencoba memulai pembicaraannya dengan anak laki-laki disebelahnya. “Seharusnya kau perkenalkan dirimu dan tanya namaku dulu, tak usah terburu-buru.” Anak laki-laki itu menjawab dengan disambut tawa teman-temannya. “Jika tak mau memberitau aku ,ya sudah!”Dea mengeraskan suaranya dengan nada kesal. “Baiklah, mungkin kau malu untuk menanyakkan nama kami, aku Edo dan ini kedua temanku Rama dan Dio.” Kata Edo dan tampak kedua temannya melambaikan tangan dan tersenyum pada Dea. “Oke… Edo sekarang dimana kelas 8.3?” tanya Dea lagi dan kali ini ia mencoba melembutkan suaranya. Edo hanya tersenyum. “Hei…sebenarnya kau tau tidak?”Dea kembali berteriak dan Edo semakin terdiam dan berlalu entah kemana. ‘Dasar aneh!’ Dea mengumam dalam hati. Dea mencoba bertanya pada murid yang lain. Dea menemukan kelas barunya tepat saat bel masuk berdering, dan tak terbayang berlipat-lipat kekesalan Dea saat dia tau bahwa dia sekelas dengan Edo dan ganknya. ‘Sial sekali aku hari ini,rasanya aku ingin menangis!’ Dea berkata –kata dalam hati. “Silahkan masuk,nak dan coba perkenalkan dirimu.” Bu Eliza memerintah Dea memperkenalkan diri. Dea masuk dalam kelasnya dan mulai memperkenalkan diri “Aku Reysa Diana, ayahku seorang Duta Besar yang berpindah-pindah tempat tugas. Terimakasih!” Dea memperkenalkan dirinya dengan sangat singkat. “Terimakasih Dea, silahkan duduk disamping Nena.” Bu Eliza mulai berkata lagi. Dea berjalan menuju bangku Nena tempat dia akan duduk. Dea memandangi samping kirinya terlihat Anggun dan Amel dan ketika melihat kesamping kanan Dea hanya bisa berkata dalam hati ‘Benar - benar berlipat kesialanku,pertama bertemu mereka,kedua dikerjai mereka dan ketiga harus duduk didekat mereka. Huuh..’ “Hei… kau yang tadi boleh kami berkenalan denganmu?” Dio bertanya pada Dea “Apa kau bilang? ‘Hei?’ namaku Dea tau,tadi kamu dengerin ga sih?” Dea berkata dengan perasaannya yang masih kesal. “Baiklah kau Dea,namaku Dio.” Dio bersalaman dengan Dea diikuti Rama dan terakhir Edo, begitu kagetnya Dea ketika melihat gelang tangan yang dipakai Edo. “Ada apa denganmu,rupanya kamu kaget sekali,memang ada yang aneh dari diriku yang begitu cakep ini?” kata Edo dengan gelak tawanya dan ganknya itu. “Tidak,tidak ada apa-apa Cuma kau agak GR,tau?” Dea menjawab dengan nada sewotnya. ‘Apa itu dia? Apa itu Aldo? Apa itu sahabat kecilku,sahabat yang selalu ku cari? Apa mungkin?’ Dea bertanya – tanya dalam hati. Dalam pelajaran pun Dea masih bertanya – tanya tentang Edo.
Sebulan berlalu, kini Dea benar – benar akan bertanya pada Edo apa benar dia sahabat kecilnya dulu. Diperjalanan menuju sekolah Dea melamunkan tentang Edo. “ Kak, ayo cepat turun keburu terlambat.” Mama membuyarkan lamunan Dea. “Ya,ma!” Dea menjawab singkat dan segera turun dari mobil dan berjalan menuju kelasnya dan mulai mengikuti pelajaran hari itu.
Teeet… teeet…, bel istirahat berbunyi dan semua muridpun keluar kelas untuk sarapan dikantin. “Edo…” Dea memanggil Edo dengan ragu. “ Ada apa,De?” Edo menjawab dengan santai. “Boleh aku bertanya?” Dea juga bertanya dengan ragu. “Hemm… ya boleh,memang kenapa?” Edo menjadi bingung dengan sikap Dea “Apakah dulu kamu adalah murid baru juga disini? Kamu pindah kesini waktu SD kelas 3,dan apakah gelang itu dari sahabat kecilmu dulu?” Dea sedikit takut kalau saja dia salah. “ Ya… aku dikota ini dari kelas 3 SD dan gelang ini sangat berharga dari sahabat kecilku,emang kenapa?” Edo bingung. “Berati bener, Aldo… kamu Aldo kan?” Dea tampak senang seakan dia menemukan sesuatu yg lama hilang dari hidupnya. “Aldo? Aldo kan nama kecilku,kok kamu bisa tau?” Edo semakin bingung. “Aldo… ini aku Dea,masa kamu lupa?Ini aku!” Dea berusaha meyakinkan Edo sambil menunjukan gelang yang sama persis dipakai Edo. “Oh Tuhan,kamu Dea? Kamu Dea yang dulu? Ya ampun…” Edo merasa terkejut saat tau kalau Dea sahabat kecilnya. “ Iya ini aku,Do. Kenapa waktu itu kamu pindah? Kamu jahat…aku kesepian disana,kamu juga ga pamit lagi sama aku?” Mata Dea mulai berkaca – kaca. “Maafin aku harus pindah karna orang tuaku juga berpindah – pindah tugas seperti papamu kan? Kamu kan tau. Lihat,Dea sekarang kamu berubah… kamu bukanlah Dea yang dulu lagi sekarang kamu begitu cantik,pintar,dan diam bukan Dea yang tomboy dan suka merebut mainanku. Hahaha…” Edo berbicara dengan gelak tawanya. “ Kamu juga berubah Aldo… kamu ga cengeng lagi,kamu sekarang jail dan GRan,kamu sekarang pake kacamata kayak calon direktur aja” Deapun begitu. “Harus dong!” Dengan bangga Edo berbicara. “Tapi kenapa namamu diganti Edo bukan Aldo lagi aku kan jadi ga kenal kamu?” Dea masih bingung. “Temen – temen disini manggil aku Edo jadi ya udah namaku Edo aja. Udah dong,Dea jangan nangis ntar jeleknya ilang lho!” Edo menghapus air mata Dea. “Kurang ajar kamu,emang aku jelek apa? Lagian aku kangen juga. Tapi yang ga berubah dari kamu tuh,kamu tetep resek ya!” kata Dea sambil mencubit perut Edo. “Aauww… sakit,De. Tega kamu,ayo kekantin bareng aku keburu masuk lho!” Edo berkata sambil menahan sakit cubitan Dea. Dan mereka berjalan menuju kantin bersama.
“Hei… Edo,kita tungguin dari tadi ternyata kamu malah pacaran sama Dea, dasar kalian berdua.” Rama protes pada Edo. “Maafin aku,aku yang ajak Edo buat ngomong – ngomong dulu. Maaf !” Dea meminta maaf. “ Maafin aku temen – temen, aku habis nostalgia masa kecil sama Dea, sekarang aku udah nemuin orang yang ngasih gelang ini ke aku dan dia tuh Dea.” Edo juga minta maaf. “ Oh… jadi Dea orangnya? Bukannya katamu orang yang ngasih gelang itu orang yang dari kecil kamu say…” Rama belum selesai melanjutkan kata – katanya . “ Eh… udah ayo makan bareng yuk!” ajak Edo sambil menutup mulut Rama yang tadi belum selesai melanjutkan kata – katanya. “ Dea sama Dio kalian didepan duluan.” Edo minta Dea dan Dio duluan. “ Awas kamu bilang – bilang aku jadiin sate kamu,Ram.” Kata Edo. “ Enggak suer! Nggak lagi deh.” Rama melepas tangan Edo dari mulutnya dan mereka makan bareng.
“Dea, kamu mau pulang bareng aku?” Edo bertanya Dea sebelum pulang dengan ganknya. “Nggak makasih,Do!” Dea melambai tangannya “ Ya udah aku duluan ya ?” Edo juga melambaikan tangan sama Dea. “Woii… ayo cepet pulang,pacaran aja.” Dio dan Rama jadi ikut angkat bicara. Dalam perjalanan pulang Edo tersenyum – senyum sendiri. “Heh… Edo kamu ga kenapa – napa kan?” Dio memperhatikan Edo yang aneh tapi Edo tak menjawab dan malah melamun dan tersenyum sepanjang perjalanan. “ Apa kamu tak melihat Dea? Dia begitu berbeda,ternyata dia teman masa laluku,dia sekarang begitu cantik tak seperti waktu anak – anak dulu.” Edo berkata sambil tersenyum. “Ah… jangan bilang kau suka dengan Dea ya? Hahaha …” Rama berkata sambil tertawa. “Sudahlah,aku sendiri tak tau.” Edo menjawab dengan senyum lagi. “Kali ini kamu benar – benar gila,Do.” Kata Dio. “Hanya karna Dea kamu jadi gila?” tanya Rama . Edo hanya tersenyum,tersenyum,dan tersenyum.
Besoknya Dea tampak bingung didepan pintu seperti ada sesuatu yang ditunggu. “ Hai,Dea. Coba ku tebak pasti kamu menunggu Edo ya?” tebak Rama. “ Emangnya Edo kemana?” Dea penasaran. “Aku sih, ga tau tapi mungkin Dio tau,tanya aja Dio aku mau masuk dulu.” Rama mengangkat bahunya tak mengerti. “Dio, emang Edo ga masuk ya? Kemana?” Dea masih penasaran tentang Edo. “Edo,di Rumah Sakit dia sakit.” Dio jawab singkat dan langsung duduk dibangkunya. “ Emang dia sakit apa?” Dea coba tanya “ Masa kamu ga tau sih,kamu kan sahabat kecilnya masa ga tau?” Dio heran. “Tapi kan itu dulu waktu kita kecil,ga tau apa – apa.” “Aku ga bisa bilangin kamu!” Dio jawab singkat takut Dea khawatir atau perasaan lainnya. “Aku ga percaya? Jangan bohong deh,aku serius!” Dea ga percaya. “Kamu pikir aku bohong apa? Emang wajahku klihatan bercanda?” Dio coba meyakinkan. “Ga!” jawab Dea singkat,dia duduk dibangkunya sambil berpikir begitu tak percayanya dia kalau sahabat kecilnya bisa sakit seperti itu. ‘Kenapa bisa padahal kemarin Edo kelihatan baik – baik aja tapi sekarang dia ga masuk karna sakit? Oh,Edo kenapa kamu?’ kalimat itu yang selalu dipikir Dea dalam hati sampai – sampai dia mengabaikan ajakan Dio dan Rama buat sarapan bareng dikantin hanya karna nglamun Edo.
“Dea jangan nglamun terus, Edo ga napa – napa kok. Aku sama Rama mau jenguk Edo kamu ikut ga?” Dio coba menenangkan Dea. “Boleh.” Begitu semangat Dea menjawab ajakan Dio. “Ya udah ayo berangkat!” Dio tersenyum. Dea berjalan dengan semangatnya didepan Dio. ‘Semanagat amat sih,De. Kalo tentang Edo? Kenapa bukan aku?’ Dio menggumam dalam hati. “Dio,, kok nglamun,ayo!” Dea tersenyum dan menggandeng tangan Dio menyebrang jalan ke Rumah Sakit. “Emm…iya ayo.” Dio hanya tersenyum polos.
“Permisi bu,,kamar pasien Revaldo Satrio Aditya dimana ya?” Rama bertanya pada perawat. “Oh…ruang 17 dari sini kamu tinggal masuk lurus,belok kanan aja.” “Terimakasih.” Dea berterima kasih atas info dari perawat. “Eh,, Rama tumben – tumbenan kamu mau tanya – tanya?” Dio heran. “ Abis perawatnya cantik sih,ya sebelum keduluan kamu aku tanya duluan.” “Hahaha…” Mereka bertiga tertawa dan berjalan menuju kamar Edo. “Biar aku saja yang ketuk pintunya.” Dea meminta untuk mengetuk pintu kamar Edo. “Ya,silahkan masuk!” terdengar suara seorang wanita yang membukakan pintu untuk mereka bertiga. “Oh… Dio dan Rama,namamu siapa cantik?” mama Edo menyalami mereka dengan senyumannya. “Ya ampun ternyata bukan hanya Edo, tante juga lupa sama aku! Ini aku Dea tante teman Edo waktu kecil.” Dea mencoba mengingatkan mama Edo sedang Dio dan Rama ngobrol dengan Edo. “Oh… Dea,kamu kok bisa disini sayang?” “Papa pindah tugas.” Dea tersenyum lalu berpaling ke Edo. “Hei,kenapa kok bisa sakit? Padahal kemarin seru – seru aja?” Dea tersenyum sambil bersalaman dengan Edo. “Ah, aku ga napa – napa cuma sakit gini aja.” Edo juga tersenyum “Sampai masuk Rumah Sakit gini dibilang ga napa – napa. Huh… dasar kamu.” Dea mengusap kepala Edo. Mereka semua tersenyum kecuali Dio,dia hanya menggumam dalam hati ‘ Sakit perasaanku,De. Andai kamu ngerti, kenapa harus Edo,Edo,dan selalu saja Edo? Kapan aku,De?’ “Dio,nglamun aja sih?” Dea mencoba bertanya. “Ga kok,aku ga napa – napa mungkin disini terlalu panas,aku diluar aja deh!” Dio tersadar dari lamunannya dan segaera membuka pintu,” Kamu beneran ga napa – napa kan?” Dea mencoba meyakinkan keanehan sikap Dio,sejenak Dio berhenti dan berkata dalam hati ‘Hatiku lebih sakit kalau aku didalam,aku lebih sakit daripada Edo.’ “Ah, ga apa – apa kok.” Dio mencoba tersenyum dalam tangis hatinya. “Ya udah.” Dea membalas senyum Dio.
Setahun berlalu semua masih sama antara Dio,Dea,Edo,dan Rama dan kini mereka ada dikelas 9.3… tapi kenapa Dea menangis ditaman sekolah. “Kamu ngapain sih nangis – nangisin Edo? Udah biarin aja kalo Edo emang sukanya sama Echa,kamu ga usah nangisin dia kan ada aku disini Dea. Biarin kalo emang… kalo emang mereka pacaran!” Dio menenangkan Dea. “Tapi…kamu ga bakal ngerti rasanya jadi aku, dengan hati dan perasaanku, hidup seperti aku,Di!” Dea menjelaskan dengan isak tangisnya. “Dea,dengerin aku… disini juga aku,, yang me…,” belum selesai Dio melanjutkan kata – katanya tapi Dea sudah memotong kata – katanya. “Apa,kamu mau ngomong apa ?” “Ga… maafin aku,aku cuma bilang ada aku yang menemani kamu kok.” Dengan senyum Dio mengatakan hal yang berbeda dengan kata hatinya.
Setiap istirahat kini Dea hanya dikelas menolak semua ajakan teman – temannya untuk kekantin atau keluar kelas, dan hari ini Dea menangis melihat Edo yang sedang bergurau dengan Echa. Melihat Dea menangis Dio masuk kedalam kelas dan menarik Dea keluar kelas. “Duh,kamu ngapain sih?” Dengan kesalnya Dea melepas tarikan tangan Dio. “Maafin aku,aku… aku cuma ga mau lagi liat kamu nangis gara – gara dia. Dan aku mau bilang kalo aku sayang sama kamu,De.” Dio mengatakan semuanya dengn mata yang terpejam karna dia takut dan sangat deg – degan… Dea terkejut,dia terdiam matanya tak berkedip sedikitpun seolah tak percaya namun semua itu usai saat Dio menyadarkan dari lamunannya. “Dea?” “Maaf Dio,tapi aku lebih memilih kamu menjadi sahabatku dan makasih buat semua,aku minta maaf.” Begitu Dea berkata dan segera berlalu dari hadapan Dio. Dalam hati Dio kini yang ada hanya remuknya tanah yang dipijaknya kini hanya karena kata – kata Dea. ‘ Tak apalah mungkin bukan dia.’ Dio berjalan dan menghela nafas.
Dea tetap saja murung apalagi dia merasa bersalah pada Dio. Tapi Dio tak mau orang yang masih diharapkannya itu terus – terusan murung, Dio keluar kelas dan menemui Edo. “Do, kamu sadar ga sih kalo Dea masih suka sama kamu, disini kamu malah begini,ga punya perasaan kamu.” “Kamu ngomong apa sih? Dateng – dateng udah ngomel aja,ngomong tuh pelan – pelan,biasa aja lagi.” “Oke…oke… kamu tau Dea kan? Dea tuh suka sama kamu,dia murung gara – gara kamu. Sadar ga sih?” Dio menjelaskan pada Edo maksudnya yang sebenarnya. “Ah… masa’?” Edo tetap saja ga percaya. “Suer,beneran!” Dio meyakinkan Edo. “ Ya udah aku kesana dulu.” Edo berlari menuju kelas menemui Dea. ‘Oh,Tuhan apa yang aku lakukan,kenapa aku malah kayak gini? Tapi… tapi ga apalah yang penting Dea ga kayak gini lagi.’ Entah perasaan apa yang menggambarkan Dio sekarang.
Didalam kelas Dea menangis dan Edo datang menemuinya. “Kamu kenapa? Jangan nangis dong. Ini aku,disini ada aku,De!” Edo mencoba menghapus air mata Dea. “Ah, aku ga apa udah kamu temenin Echa sana ntar dia nyariin kamu lho,nanti dia marah lagi sama aku kalau kamu ada disini.” Dea juga mencoba tersenyum. “Kamu jangan ngalihin pembicaraan deh… ngomongin Echa lagi,aku udah ga ama Echa, jadi jangan ngomongin dia lagi. Dan kamu, kamu jangan nangis kan aku udah pernah bilang kalo kamu nangiskan jadi ilang jeleknya.” Edo mencoba menjelaskan semuanya dan sedikit menghibur Dea. “Huh… dasar kamu, aku ga jelek – jelek amat lagi. Awas kamu!” Sekarang Dea benar – benar terrsenyum. Dari luar Dio melihat Dea tersenyum ‘Syukurlah, kalau kamu sekarang tersenyum,mungkin emang hanya Edo yang bisa buat kamu kayak gitu.’ Didalam kelas Dea dan Edo bercanda.
Hujan mengguyur sekolah mereka siang ini. Dea menunggu jemputan mamanya dihalte,saat dia ingin menyebrang,Edo dateng disampingnya. “Mau kemana kamu,ujan gini?” “Aku mau pulang sendiri aja,mamaku kelamaan ntar kesorean lagi.” “Bareng aku aja,gimana?” Edo mengajak Dea pulang bersama. “Emang kamu ga bawa sepeda?” “Ga,tadi aku dianterin sama papa.Ya udah,ayo!” Edo menarik tangan Dea dan memayunginya dengan jaket yang dipakainya. Ditengah perjalanan mereka berlari “De, gimana kalo kita ujan – ujanan aja sekalian,udah lama kita ga ujan – ujanan kayak waktu kecil.” “Tapi,nanti kalo sakit gimana?” Dea ragu. “Ga bakal kok,tenang aja ntar kalo kamu sakit aku yang bilang mama kamu.” “Ya udah.” Dea dan Edo bermain dan berlari – lari ditengah hujan yang lumayan deras,mereka bermain ditaman dekat perumahan mereka. ‘Ini yang kurindukan dari kamu sejak dulu,Do. Tawamu,senyummu,dan hangatnya pertemanan kita. Andai ini selamanya.’ Dalam hati Dea berkata sambil terus tertawa dan bermain bersama Edo. Begitu hujan reda mereka duduk ditaman. “Aku kangen kamu,kamu yang dulu beda.” Dea tersenyum menatap Edo. “Kamu juga.”
“Semuanya berubah ya, terkadang aku pingin kembali kemasa lalu.” “Iya,aku juga biar kembali agak mudaan.” “Dasar kamu!”Dea tertawa. Sejenak semua hening Dea dan Edo bertatapan dan tersenyum. “Kamu ngapain ngliatin aku,terpesona ya?” Edo bercanda “Ih… ya kamu yang terpesona sama aku,dari tadi kamu yang liatin aku, dasar GR!” Dea tertawa. “De,boleh aku ngomong sesuatu sama kamu?” “Ngomong apa?”. Edo terdiam dia hanya tersenyum dan tangannya menunjukan bentuk hati dan menunjuk pada Dea. Dea tersenyum seperti mengetahui maksud Edo,Dea bangun dari duduknya dan berjalan meninggalkan Edo ditaman. “Hei,apa jawabannya?” Edo berteriak kearah Dea, Dea hanya tersenyum. “Besok ya!” Edo berteriak lagi dan bangkit dari duduknya untuk pulang.
Keesokan harinya hingga hari ini saat mereka sudah ada di SMA elit dikota itu,seperti hari – hari untuk mereka berdua selalu mereka berdua. “Dea,ayo pulang,cepetan!” Edo mengajak Dea pulang. “Duh,bentar emang kenapa sih?” “Ya,ntar kalo kesorean aku yang dimarahi sama mama kamu ‘Aduh,pulang sore kemana aja kalian?’. Bosen aku dengernya.” “Eh,enak aja kamu ngatain mamaku,ya udah aku pulang sendiri aja!” Dea berjalan meninggalkan Edo,tapi Edo menarik tangannya “Iya,maaf makanya cepetan dong. Ayo naik,cepet pake helmnya.” Mereka pulang dan dalam perjalanan mereka bergurau.
Pagi ini cukup cerah, Dea berangkat kesekolah sendiri,tak seperti biasanya bareng dengan Edo. Dea berjalan menuju kelas namun sesaat hatinya berubah mendung hanya karna melihat Edo duduk dan bergurau disamping Tasya dan ini bukan yang pertama kalinya. Melihat Dea didepan pintu memandanginya Edo menghampiri dan ingin mencoba menjelaskan tapi Dea pergi dan berlari ketaman sekolah. “Dea,tunggu aku mau ngomong.” “Ngomong apa lagi, jadi ini alasan kamu ninggalin aku pagi tadi biar bisa ngobrol dengan Tasya dan kamu anggap aku ga tau apa?” Titik – titik air mata menetes dipipi Dea. “Bukan itu,karna tadi pagi aku buru – buru karna aku harus mengantar adikku juga kan hari ini dia ada latihan paduan suara,kemarinkan aku udah bilang. Kenapa kamu gini amat sih?” Edo menjelaskan panjang lebar. “Oke,maafin aku kalo aku ga ngerti kamu.” Dea berlalu menuju kelas,kini dia meminta pindah tempat duduknya yang semula didepan Edo bertukar dengan Dio dan Rama dibelakang. “Kalian kenapa sih,tumben – tumbenan?” Rama bertanya keanehan mereka berdua “Dan kenapa tadi Dea nangis?” Dio menambahi “Ga apa cuma salah paham aja.” Edo mencoba tersenyum.
Lebih dari seminggu mereka terus saling diam. Sebenarnya Edo ingin berbicara dengan Dea tapi Edo masih ragu dan hari ini Edo mencobanya. “Aline kamu mau pindah kemana,kamu ga mau duduk sama aku lagi?” Dea heran saat Aline memindah duduknya. “Ga apa kok,De. Aku cuma pingin duduk didepan hari ini. Bolehkan aku didepan?” “Ehm… iya.” Dengan tak terpikir Edo duduk disamping Dea “Ngapain kamu disini?” Dea mengeraskan suaranya saat jam pelajaran. “Sst… jangan keras – keras.” Edo menutup mulut Dea. “Dea ada apa?” Begitu guru fisika memanggilnya keras. “Tidak pak,tidak apa – apa. Maaf pak,!” Segera Dea meminta maaf. “Ngapain kamu disini?” kali ini Dea mengecilkan suaranya. “De, maafin aku ya. Kamu salah paham,aku dateng pagi waktu itu cuma kamuflase mau nyontek PRnya Tasya,tapi aku nganter adikku pagi itu beneran,De… maafin ya!” Edo memohon pada Dea dengan gaya memelas andalanya itu. Sejenak Dea berfikir “Ya udah tapi jangan lagi,lagian kamu ngapain nyontek PR Tasya, waktu sorenya kamu bisa kerumahku kan?” “Aku ketiduran, tapi beneran dimaafin ya?” “Iya,iya…” “Nah,gitu dong. Gitu kan kelihatan manis.” Edo kembali kebangkunya lagi dan Dea hanya menggeleng.
Liburan semester ini Dea dan Edo berlibur sendiri, pagi ini Edo akan berangkat berlibur ke Jakarta, sedang Dea hanya dikota itu. “Hati – hati ya!” Dea menatap Edo “Aku janji bakal pulang sebelum kamu ulang tahun,De.” Edo mengusap kepala Dea “Inget aja.” Dea tertawa “Ya iya,kalo orangnya spesial hari spesialnya ga bisa lupa. Aku berangkat ya!” Edo masuk kedalam mobil dan melambaikan tangan pada Dea. Hari – hari menjadi sepi bagi Dea tanpa Edo. Liburan kali ini Dea tak mau kemana – mana, dia khawatir kalau saja sewaktu – waktu Edo datang dan menemuinya,dia khawatir Edo kecewa kalau saat dia datang Dea tak ada. “Sudah, ayolah kita jalan – jalan sebentar,Kak. Untuk hari ini saja, Kak Edo ga bakal datang diakan sedang berlibur. Ayo, aku bosan dirumah.” Della adik Dea terus merayunya untuk ikut berlibur dengan keluarga mereka. “Tapi bagaimana kalo dia benar – benar pulang?” “Kak, dia berlibur dan pasti itu lama diluar kota lagi.” “Iya…iya… ayo kita berangkat.” Dea berlibur dengan keluarganya dipantai. Disana mereka semua piknik,berenang,dan melakukan hal – hal yang biasa mereka lakukan dipantai tapi Dea tak ikut,dia hanya duduk dipasir pantai yang lembut dan termenung. ‘Seandainya Edo dan keluarganya juga ada disini mungkin aku tak kesepian.’
Hari ini Edo pulang dan menepati janjinya untuk pulang sehari sebelum Dea berulang tahun. “Aku udah pulangkan?” Edo datang ketaman tempat dimana dia dan Dea bertemu. “Iya,aku tau kalo kamu bakal tepat waktu dan ga ingkar janji.” Dea tersenyum. “Makasih,De. Selama ini kamu udah nemenin aku. Aku ga pernah nyangka bakal ketemu sama kamu lagi.” “Edo,kamu kok bilang gitu? Emang kamu mau ninggalin aku ya?” Dea merasa tidak suka dengan kata – kata Edo dan merasa ada sesuatu yang aneh. “Ga akan,karna kamu selalu ada disini dihatiku,De.” Edo meyakinkan Dea. Sejenak semuanya terdiam,taman yang begitu luasnya terasa sepi. “Udah ya, aku pulang dulu. Tunggu aku besok dirumahmu.” Edo berdiri dari duduknya tersenyum pada Dea dan pulang.
Inilah hari yang sangat ditunggu Dea. Siang ini dia duduk menunggu Edo. Dea mencoba menelpon Edo “Do,kamu dimana?” “Iya sebentar tunggu aku,aku lagi dijalan.” Edo menjawab telepon dari Dea. Beberapa saat suara Edo sudah tak terdengar. ‘Apa dimatikan ya? Ya sudah ,aku tunggu saja.’ Namun sudah 2 jam Dea menunggu tapi Edo belum datang. “Sabar,De. Sebentar lagi pasti Edo datang.” Mama menenangkan Dea. “Eh…iya ma.” Dea tersenyum. Jenuh dia menunggu Edo, Dea menonton televisi diberita diberitahukan bahwa seorang pemuda kecelakaan dengan sebuah mobil besar. Begitu takutnya Dea hingga televisi dimatikan dan kembali menunggu Edo. Kecemasan dalam hatinya semakin bertambah ‘Edo pasti datang,dia tak apa aku harus yakin itu.’ Mata Dea berkaca – kaca dia takut kalau – kalau itu benar – benar Edo. Telepon dirumahnya berdering ,Dea mencoba mengangkatnya “Halo…” sesingkat itu Dea berbicara. “Halo,Dea ini tante sayang.” Dea terdiam dia hanya berkata dalam hati ‘Kenapa suara tante parau,tak seperti biasa,dan seperti ada isak tangis? Ada apa?’ “Ehm… ada apa tante?” “Edo… Edo kecelakaan,De. Cepat kamu kesini.” “Ehm,iya tante.” ‘Ternyata benar ini semua Edo.’ Dea berlari menghampiri keluarganya. “Semua,kita ke Rumah Sakit sekarang Edo kecelakaan!” Mata indah Dea menitihkan air mata. Kini Dea dan keluarganya menuju Rumah Sakit dan begitu sampai disana Dea memeluk mama Edo erat.
Berjam – jam mereka menunggu hingga dokter keluar dari ruangan. “Dok,bagaimana keadaan Edo?” mama Edo segera bertanya pada dokter. “Dia mengalami pendarahan diotaknya. Hingga menjadi fatal.” Dokter meminta maaf pada semua keluarga pasien yang datang. “Jadi maksud dokter Edo meninggal?” Dea menangis. Dokter hanya mengangguk dan berlalu dari hadapan mereka semua. Mama Edo menangis. Dea tak mampu mendengar semua hingga dia pingsan.
“Dea sini kejar aku,katanya bisa ngejar aku?” “Edo,sini balikin bukuku. Dasar resek kamu,Edo.” Dea berteriak dan mengejar Edo. “Edo,balikin aku bilang. Sini,cepet!” Dea duduk ditaman dan berhenti mengejar Edo. “Yee… gitu aja ngambek,ini aku balikin. Jangan marah dong.” Edo tersenyum. Dea mengambil buku dari tangan Edo “Abis kamu resek sih.” “Hahaha…resek mana sama kamu waktu kecil?” “Ya…ya sama aja sih sebenernya.” Dea dan Edo tertawa. “EDO!” Dea berteriak dan terbangun dari tidurnya. ‘Itu semua tadi hanya mimpiku dan kenyataannya Edo udah pergi selamanya.’ Dea berkata dalam hati dan menangis lagi. “Sudah De,jangan ditangisi. Ayo, cepat cuci mukamu dan ganti baju kita ikut ke pemakaman Edo.” “Iya ma.” Dea beranjak dari tempat tidurnya dan segera menuruti perintah mamanya.
Setelah kepemakaman Edo, Dea tak langsung pulang dia diajak mama Edo untuk kerumahnya. “Dea sini masuk.” “Iya tante.” Dea masuk kedalam rumah yang kini sepi tanpa tawa Edo lagi. “Ini hadiah yang ingin Edo berikan saat kamu ulang tahun. “ Mama Edo tersenyum. Dea menerima kotak kecil saat dia membuka kado itu isinya kalung liontin indah didalamnya ada foto masa kecil mereka berdua dan ada surat kecil:
Dea tersenyum dirumah membaca surat terakhir Edo. Dia tak akan mendengar tawa Edo lagi selamanya. “Dea?” mama mengagetkan Dea. “Iya ma?” “Minggu depan kita pindah dari kota ini karna papa akan berpindah tugas lagi.” “Ehm… iya.” Dea tersenyum.
Hari ini Dea harus meninggalkan kota ini. Dea berpamitan pada orang tua Edo dan dia juga sempat kemakam Edo “Edo,aku mau pergi semoga kamu selalu tersenyum disana. Aku akan kangen kamu selalu.” Setelah ke makam Edo dia meminta papa dan mamanya menjemputnya ditaman biasa dia bercanda dengan Edo dan mengatakan dalam hati ‘Ini terakhir kalinya aku ada ditempat ini dan semoga aku bisa melupakan Edo.’ Dea naik kedalam mobil dan memulai perjalanannya menuju bandara. Sesampai dibandara dia bersalaman dengan Dio dan Rama sahabatnya. “Kamu yakin mau pergi?” Rama bertanya. “Ya iya dong.” “Aku bakal kangen kamu,De.” Dio tersenyum pada Dea. “Iya aku juga bakal kangen kalian berdua.” Begitu hingga Dea naik kedalam pesawat dan melambaikan tangan pada Rama dan Dio. Melanjutkan perjalanannya terbang lebih tinggi lagi.
The End
_PRanda.:Buat semua…jangan terlalu percaya dengan cinta karna cinta datang dan pergi dan jika kalian mengharapkannya suatu saat dia akan kembali untuk kalian. Love u all.
Post comment @ fb= pranda.pranda@ymail.com


